Minggu, 30 Agustus 2020

BUDI WIRYAWAN : BISMILLAHIROHMANIROHIM KBM LURING SMA NEGERI 2 LIWA DIMULAI

BUDI WIRYAWAN, S.Pd (Kepala SMA Negeri 2 Liwa)

Untuk pertama kalinya setelah wabah Covid-19 menjadi bencana kesehatan secara nasional, SMA Negeri 2 Liwa akan dibuka kembali pada, Senin (31/08). Sesuai surat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, nomor 421/2299/V.01/DP.2/2020, tertanggal 25 Agustus 2020, tentang Rekomendasi/ Izin Pembelajaran Tatap Muka SMA/SMK di Kabupaten Lampung Barat.

Berdasarkan surat tersebut ; seluruh peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan tetap berkomitmen untuk melakukan protokol kesehatan selama pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah dengan berpedoman pada standar operasional prosedur, tetap berkoordinasi dengan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Lampung Barat atau Puskesmas terdekat, satuan pendidikan untuk melakukan pelaporan hasil pembelajaran secara berkala (2 minggu) kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, jika dari hasil pemantauan dan evaluasi oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan Tim Pengawas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung terdapat satuan pendidikan yang melanggar protokol kesehatan maka akan dilakukan penutupan proses pembelajaran, serta jika ditemukan kasus positif Covid-19 dan/ atau berubahnya status dari zona kuning menjadi zona orange (beresiko sedang) maka satuan pendidikan segera menutup proses pembelajaran dan melaporkannya kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Lampung Barat.

“Dengan mengucapkan Bismillahirohmanirohim mulai Senin, 31 Agustus 2020 SMA Negeri 2 Liwa akan melaksanakan KBM tatap muka. Mohon do’a dari kita semua termasuk orang tua siswa, semoga pandemi ini segera berakhir. Dan saya harap seluruh warga sekolah mematuhi protokol kesehatan”, sampai Budi Wiryawan, S.Pd, Kepala SMA Negeri 2 Liwa.

Lanjut Budi, SOP yang telah ditetapkan dan disosialisasikan harus dipatuhi. Agar semua aman dan terjaga dari penyebaran Virus Corona. Sebagai informasi, uji coba KBM tatap muka/ luring akan dilangsungkan selama 3 minggu.


Baca juga :

Sabtu, 29 Agustus 2020

JADWAL KBM KENORMALAN BARU DI MASA PANDEMI COVID-19 SMA NEGERI 2 LIWA


Perhatian :
  1. Jadwal KBM ini berlaku untuk 2 minggu masa uji coba pertama
  2. Untuk kelompok yang mendapat kesempatan PJJ/ belajar dari rumah/ daring teknis pelaksanaan silahkan menghubungi guru mata pelajaran masing-masing atau wali kelas




Jumat, 28 Agustus 2020

PEMBAGIAN KELAS KBM KENORMALAN BARU DI MASA PANDEMI COVID-19 SMA NEGERI 2 LIWA

Perhatian :
  1. Silahkan membaca dokumen berikut secara lengkap
  2. Seluruh peserta didik saat hadir ke sekolah wajib memakai seragam sekolah dan bagi kelas X memakai seragam sekolah asal
  3. Wajib melaksanakan tata tertib sekolah (terkait rambut, seragam, dan atribut lainnya)
  4. Jadwal belajar akan diumumkan selanjutnya
  5. Untuk pelaksanaan KBM Daring harap berkomunikasi dengan wali kelas masing-masing.









Kamis, 27 Agustus 2020

SENIN, 31 AGUSTUS 2020 KBM LURING SMA NEGERI 2 LIWA DILAKSANAKAN


SMA Negeri 2 Liwa memutuskan Pembelajaran Kenormalan Baru di Masa Pandemi Covid-19 akan dilaksanakan pada Senin, 31 Agustus 2020. Hal ini disepakati setelah keluar surat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, nomor 421/2299/V.01/DP.2/2020 tertanggal 25 Agustus 2020, tentang Rekomendasi/ Izin Pembelajaran Tatap Muka SMA/ SMK di Kabupaten Lampung Barat.

Kepala SMA Negeri 2 Liwa, Budi Wiryawan, S.Pd saat memimpin rapat Gugus Tugas Pelaksanaan KBM Luring, Kamis (27/08) meminta semua warga sekolah mematuhi SOP yang telah disusun serta menjaga kesehatan dan keselamatan masing-masing.

“SMA Negeri 2 Liwa menerapkan 3 minggu uji coba KBM luring. Seluruh kelas akan dibagi kedalam 2 kelompok, kelompok A dan Kelompok B. Minggu pertama yang berluring itu kelompok A sedangkan minggu kedua nanti yang hadir kesekolah adalah kelompok B. Setelah kita evaluasi, baru pada minggu ketiga semua hadir kesekolah, kelompok A pagi dan kelompok B siang”, jelas Budi Wiryawan.

Silahkan baca dokumen di bawah ini 




Rabu, 26 Agustus 2020

URGENSI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Dokumentasi 28 Juli 2019

Persoalan yang dihadapi dalam proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring maupun luring di tengah pandemi Covid-19 cukup kompleks. Selain kegiatan kurikuler yang harus mengikuti Panduan Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran pada masa Pandemi Covid-19implementasi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah pun harus mengikuti adaptasi Kehidupan Baru (AKB). Sejumlah cara dilakukan sekolah supaya kegiatan ekstrakurikuler tetap berjalan di tengah pelaksanaan PJJ.

Implementasi kegiatan ekstrakurikuler di tengah pandemi menjadi tantangan tersendiri. Sekolah harus menyiasati agar kegiatan ekstra kurikuler tetap berjalan walaupun adanya pembatasan kegiatan tatap muka di sekolah. Layaknya dalam kondisi normal, kegiatan peserta didik tidak hanya sekedar kurikuler saja, tetapi juga kegiatan ekstrakurikulerpun harus tetap berjalan. Para peserta didik harus tetap mendapatkan ruang untuk berekspresi sesuai dengan bakat dan minatnya.

Selama menjalani proses Belajar Dari Rumah (BDR), sebaiknya sekolah tetap menjadwalkan kegiatan bagi para peserta didik untuk tetap menerima bimbingan kegiatan ekstrakurikuler, tentunya setelah kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selesai. 

Alokasi kegiatan ekstrakurikuler mempunyai bobot 2 jam pelajaran seminggu. Sekolah dapat membuat jadwal dan mengatur setiap kegiatan ekstrakurikuler agar dapat berjalan sesuai standar minimal dan tidak saling berbenturan. 

Secara umum, kegiatan ekstrakurikuler dilakukan secara virtual atau daring (dalam jaringan). Namun jika terpaksa, maka kegiatan ekstra kurikuler tertentu dapat melakukan kegiatan di luar jaringan (luring) dengan bertatap muka langsung, tentunya dengan tetap memprioritaskan standar protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan sering mencuci tangan dengan sabun.

Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tidak lepas dari amanah Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Pengembangan potensi peserta didik sebagaimana dimaksud dalam tujuan pendidikan nasional tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Turunan dari Undang-undang SISDIKNAS tersebut adalah Permendikbud No.62 tahun 2014 tentang kegiatan ekstrakurikuler.

Selain sebagai ajang penyaluran ekspresi peserta didik terkait dengan bakat dan minatnya, kegiatan ekstra kurikululer juga bisa dimanfaatkan untuk ajang peningkatan citra sekolah dalam kaitannya dengan peraihan medali atau piala dalam setiap event kejuaraan yang diselenggarakan pihak internal ataupu eksternal. 

Untuk itu, setiap kegiatan ekstrakurikuler diharapkan mempunyai orientasi pencapaian target secara kuantitatif berupa peraihan medali/piala yang hasilnya meningkat dari tahun sebelumnya. Sebuah prestasi dalam kegiatan lomba/kejuaraan yang melibatkan peserta didik dalam bingkai ekstra kurikuler pada akhirnya akan sangat membantu perkembangan karir peserta didik yang bersangkutan. Misalnya, mereka akan mempunyai akses khusus untuk masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya melalui jalur prestasi non akademik.

Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler di masa pandemi covid-19 tetap memiliki urgensi. Dari sisi tujuan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler tidak ada perubahan, yang berubah hanyalah media/sarana penunjang dan pola kegiatan yang harus mengikuti Adaptasi Kehidupan Baru.


Sumber : kompasiana.com

Selasa, 25 Agustus 2020

CAHAYA PENYELAMAT | Puisi karya Tiara Putri Berliani


Aku berlayar dibawah remang bulan
melayang diantara palung dalam

Aku terhempas
dalam ruangan ilusi
terlempar dalam dimensi halusinasi

Aku tersedot lubang hitam
tercekik oleh kegelapan
membutuhkan pertolongan.

Di antara bayangan yang tertawa
di antara bayangan yang menderita
semua bermain dalam kepala
mengusik pendengaran
mengalihkan pemikiran

Aku meringkuk
meraih apa yang bisa kuraih
mengenggam yang bisa kugenggam
berjalan seolah diperlambat
membuat ku ketakutan
dan semakin mengecil
di pojok ruangan

Hingga
setitik penerang melintas
menembus hati
yang lama usang
menumbuhkan cahaya
yang takkan sirna

Akar hidup mulai tumbuh
buah bahagia perlahan berkembang
cahaya itu
penyelamat hidup
cahaya itu
penerang sejati
cahaya itu
ilmu pengetahuan

-----------------------
Karya Tiara Putri Berliani, perwakilan XII MIPA 2. Dengan judul asli "Setitik Penerangan" adalah karya terbaik pada lomba cipta puisi dalam Rangka HUT ke-11 SMA Negeri 2 Liwa yang dilaksanakan mulai 4-24 Agustus 2020 secara daring.

Rabu, 19 Agustus 2020

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1442 H


PERUBAHAN JADWAL SIDIK JARI ALUMNI TP. 2019/ 2020


  1. Menindaklanjuti SKB Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2020
  2. Jadwal sidik jari ini merupakan perubahan jadwal yang telah dibagikan sebelumnya
  3. Bagi alumni (kelas XII MIPA dan kelas XII IPS 1) yang belum melaksanakan sidik jari, maka diharap hadir pada Rabu, 26 Agustus 2020, pukul 08.00 – 11.00 WIB
  4. Harap hadir dengan pakaian bebas sopan dan mengenakan masker
  5. Untuk itu, dilakukan perubahan jadwal 2 kelas yang belum melaksanakan sidik jari sebagai berikut :


Selasa, 18 Agustus 2020

KIAT BANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Ilustrasi : Google.com

Belajar bukan hanya sekedar transfer knowledge, namun merupakan  suatu proses yang dialami seseorang untuk dapat memahami apa yang dipelajari. Proses inilah yang sangat penting, di mana ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Proses belajar yang diberikan kepada siswa agar dapat memahami apa yang kita sampaikan harus membuat siswa senang dan termotivasi untuk belajar.

Berbagai model pembelajaran disarankan untuk dicoba, dan siswa dijadikan subyek belajar bukan objek belajar yang hanya menerima dan guru yang aktif. Pembelajaran sekarang diharapkan siswa aktif dan secara kolaborasi berproses memahami materi yang disampaikan guru dan guru sebagai fasilitator saja.

Proses ini yang akan membekas dan memberikan ketrampilan berpikir dan membentuk karakter yang baik pada siswa. Siswa akan lebih kreatif, cerdas dan berpikir kritis, mampu memecahakan masalah secara bersama-sama, dan menghargai orang lain. Pembelajaran inilah yang sedang digalakan pada Proses Belajar Mengajar (PBM) saat ini.

Siswa diajak berdiskusi, memecahakan suatu masalah, dan kemudian tampil mempresentasikan hasil kerjanya. Hal ini melatih siswa berani menyampaikan pendapat dan bertanggungjawab dengan apa yang dikemukakan.

Belajar yang menyenangkan akan mampu membuat siswa memahami dan termotivasi untuk belajar. Namun semua pembelajaran harus berubah, sejak tanggal 16 Maret 2020, siswa mulai melakukan pembelajaran secara daring. Pandemi Covid-19 membuat keadaan memaksa siswa mengikuti PBM secara online.

Minggu pertama siswa mengikuti dengan semangat. Tugas yang diberikan guru lewat WhatsApp (WA) dikerjakan dengan baik. Hari-hari terus berjalan dan setelah hampir dua bulan siswa harus mengikuti pembelajaran online, semangat mereka menurun. Semangat mereka sudah tidak seperti minggu pertama, tugas-tugas masuknya terlambat, bahkan ada siswa yang tidak mengumpulkan tugas.

Kendala banyak dijumpai di lapangan, banyak siswa mengeluh tidak memiliki quota internet untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. Juga banyaknya tugas yang menumpuk, rasa bosan dengan pembelajaran yang monoton. Semua guru memberi tugas dan meminta siswa memfotokan tugasnya.

Eksistensi pembelajaran yang menyenangkan akhirnya menjadi pembelajaran yang membosankan. Siswa bukan sebagai subyek namun menjadi obyek pembelajaran, oleh karena itu perlunya langkah untuk memotivasi siswa kembali dalam belajar. Pembelajaran online tidak harus memaksakan siswa mencapai target pembelajaran seperti ketika pembelajaran tatap muka. Namun menciptakan hati yang nyaman sehingga mereka masih yakin untuk tetap belajar dan menyongsong masa depan di tengah pandemi Covid-19 ini.

Mengajak siswa menjaga kesehatan, tetap semangat menjalankan social distancing dan saling memberi motivasi kepada yang lain untuk tetap semangat dalam belajar. Misalnya siswa diajak untuk mengirimkan foto kegiatannya di rumah dan pendapatnya dalam melakasanakan pembelajaran daring dan pencegahan Covid-19. Saling memberi semangat dan di-share di grup belajar. Hal ini bertujuan membangkitkan suasana kekeluargaan, mengobati jeda waktu yang cukup lama tidak ketemu, sekaligus saling memberi semangat belajar.

Untuk membangkitkan semangat belajar siswa selain dengan cara di atas, guru dapat memberikan materi pembelajaran dengan lebih menarik dan tidak hanya memberikan tugas atau soal saja. Guru dapat membuat power point atau video pembelajaran, atau memberikan contoh-contoh perhitungan agar siswa memahami materi yang disampaikan.

Guru memberikan kesempatan tanya jawab dengan siswa sehingga mempermudah siswa memahami materi yang disampaikan guru. Mendengarkan kendala siswa dalam mengerjakan tugas maupun dalam mengirimkan tugasnya. Serta mencari solusi yang terbaik agar tetap dapat pembelajaran tetap dapat berjalan dengan baik.

Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir dan pembelajaran kembali normal. Tetap semangat anak-anakku, kalian adalah harapan bangsa yang akan membawa masa depan gemilang untuk negeri ini !

Sumber : siedoo.com


Senin, 17 Agustus 2020

SADARLAH PEMUDA, INDONESIA SUDAH 75 TAHUN MERDEKA !

Gambar : Google.com

Hari ini 17 Agustus 2020, peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke 75. Jika hari ini adalah Peringatan, maka pasti ada sesuatu yang diperingati, yang perlu diingat, tidak boleh dilupakan dan harus ditanamkan pada setiap generasi. Hari Kemerdekaan merupakan pengingat bahwa bangsa ini dulunya pernah terjajah, pernah tertindas, pernah dirampas haknya, bahkan terusir dari tanahnya. Apa sebetulnya esensi dari peringatan hari kemerdekaan setiap tahunnya? Pastilah bukan hanya tentang prosesi upacara saja, namun lebih dari itu masyarakat harus memaknai peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dibalik itu semua. Pertanyaan itu harusnya muncul dibenak setiap pemuda, untuk apa kita diminta ikut hadir dalam prosesi upacara kemerdekaan setiap tahunnya? Sebagai generasi muda yang lahir jauh setelah masa kemerdekaan, kepekaan terhadap kepentingan nasional menjadi kurang terasah, karena kita hidup jauh setelahnya dimana keadaan serba memadai dan tentu tidak ikut merasakan ill will and hostility selama masa perjuangan melawan penjajah. Beda dengan generasi akhir saksi sejarah yang masih hidup hingga sekarang, jika bisa diukur kecintaannya tehadap bangsa maka pastilah sangat besar cinta dan kesetiannya jika dibandingkan dengan kami generasi muda, yang berbahasa pun dengan gengsi dan merasa keren dengan gaya ala western.


Kecintaan terhadap bangsa bisa lahir jika kita dapat memahami bagaimana bangsa ini dulunya diperjuangkan kemerdekaannya, bagaimana tersiksanya dan pengasingan yang dilakukan penjajah terhadap para pejuang tanah air, bagaimana para penjajah merampas hajat hidup warga pribumi, perjuangan dan semangat para pemuda bersatu padu dalam upaya-upaya kemerdekaan, semua diabadikan dalam banyak catatan, biografi, maupun buku-buku sejarah. Sayangnya dimasa dekadensi literasi saat ini, tidak banyak yang tertarik dengan bacaan atau hal semacam itu, jauh lebih menarik dan mengasyikkan menghabiskan waktu berjam-jam main game bersama rekan setongkrongan, kita jumpai dari usia muda hingga dewasa banyak yang terjebak melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan hal yang menurut saya sia-sia. Bagi saya, membaca buku sejarah adalah versi lain dari mendengarkan cerita dongeng masa lalu. Mengasyikkan karena apa yang dibayangkan seolah terekonstruksi menjadi imajinasi visual, kisahnya terstruktur dan telah disusun rapi dari awal hingga akhir. Dengan banyak membaca referensi sejarah nasional maupun buku-buku perjuangan kemerdekaan, rasa empati dan solidaritas anak bangsa itu akan hadir, juga timbul perasaan ingin menjaga keutuhan bangsa sebagaimana yang para leluhur perjuangkan dahulu. Inilah yang disebut nasionalisme, empati yang hadir murni dari pekanya hati yang terasah oleh rangkaian cerita panjang perjuangan masa lalu, paham know how nya bangsa ini, tulus ingin menjaga keutuhan negara sebagai wujud cinta tanah air.

Sumber : kompasiana.com

75 TAHUN INDONESIA MERDEKA


Minggu, 16 Agustus 2020

PUKUL 10.17 WIB 17 AGUSTUS 2020, AMBIL SIKAP SEMPURNA DAN BERDIRI TEGAK


Keterlibatan aktif seluruh masyarakat dalam Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan secara virtual sangat diharapkan. Tepat pada pukul 10.17 WIB pada tanggal 17 Agustus 2020 esok, seluruh masyarakat diminta menghentikan kegiatan sejenak dan mengambil sikap sempurna selama tiga menit untuk menghormati peringatan tersebut.


MERDEKA BELAJAR UNTUK SEMANGAT DAN INSPIRASI PENINGKATAN PENDIDIKAN

Gambar : Google.com

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan bahwa nama “Merdeka Belajar” dapat digunakan bersama selama untuk kepentingan dunia pendidikan dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini diperkuat dengan kesiapan Sekolah Cikal menghibahkan hak atas merek dagang dan merek jasa “Merdeka Belajar” kepada Kemendikbud.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim yang mengusung Merdeka Belajar sebagai payung besar misi kebijakan pendidikan menyampaikan apresiasinya kepada Sekolah Cikal dalam bincang media secara daring Jumat ini (14/08). “Pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama, sehingga kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya  kepada Cikal yang selama bertahun-tahun telah menggerakkan merdeka belajar dengan semangat gotong royong ke komunitas guru belajar di Indonesia dan semangat kekeluargaan terkait penggunaan nama Merdeka Belajar ini,” ungkap Mendikbud.

Untuk selanjutnya, baik Sekolah Cikal maupun pihak lain tetap bisa menggunakan Merdeka Belajar tanpa kompensasi apapun untuk kepentingan pengembangan pendidikan sepanjang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami, mempunyai visi yang sama dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang berkualitas dan setara, keputusan menghibahkan hak atas merek Merdeka Belajar ini kami harap akan mengakhiri polemik dan sorotan yang sempat mengemuka,” kata pendiri Sekolah Cikal, Najelaa Shihab.

Kemendikbud sendiri telah meluncurkan lima Episode Merdeka Belajar. Pada Episode 1 Merdeka Belajar mengubah Ujian Nasional menjadi asesmen kompetensi minimum dan survei karakter, menghapus Ujian Sekolah Berstandar Nasional, menyederhanakan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan menyesuaikan kuota penerimaan peserta didik baru berbasis zonasi.

Merdeka Belajar Episode 2: Kampus Merdeka, memberikan kemudahan pelaksanaan pembelajaran di perguruan tinggi. Merdeka Belajar 3: perubahan mekanisme Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2020, Merdeka Belajar 4: Program Organisasi Penggerak, dan Episode 5 yaitu Guru Penggerak.

Sementara Sekolah Cikal menggunakan Merdeka Belajar sejak 2014 melalui Kampus Guru Cikal sebagai ekosistem untuk menggerakkan perubahan pendidikan dan telah dipraktikkan dalam  kurikulum, pelatihan, dan publikasi Yayasan Guru Belajar. Pada 1 Maret 2018, Sekolah Cikal mendaftarkan hak atas merek dan bukan hak paten atas Merdeka Belajar ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, sebagai upaya mencatatkan dan melindungi keberlangsungan upaya pengembangan pendidikan selama ini, yang kemudian disetujui pada 2020.

“Selanjutnya, mari kita bersama-sama kembali fokus melanjutkan misi Merdeka Belajar sesuai filosofi Bapak Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara untuk menciptakan ekosistem pendidikan nasional yang lebih sehat, berasas gotong royong dengan menghadirkan iklim inovasi sehingga mampu menghasilkan SDM unggul dan berkarakter.” tutup Mendikbud.

Sumber : kemdikbud.go.id

Sabtu, 15 Agustus 2020

GENERASI MILENIAL DAN GERAKAN LITERASI

Ilustrasi : komunitasmacarita.wordpress.com

Tantangan zaman kian memanas dibarengi wacana global yang memang sudah tidak dapat dibendung lagi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat hingga ke pelosok-pelosok desa. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia, baik dari segi sosial, ekonomi, budaya, bahkan agama. Revolusi industri 4.0 adalah satu-satunya wacana hangat yang diperbincangkan generasi milenial saat ini.

Sebagai umat manusia yang hanya sementara menempati bumi, tentunya kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perkembangan ilmu pengetahun dan teknoogi yang kian pesat ini, seharusnya bagaimana kita dapat membentengi diri kita agar nantinya bisa menyikapi Revolusi Industri 4.0.

Selain revolusi industri 4.0 Indonesia juga akan dihadapkan dengan bonus demografi yang menurut perkiraan akan terjadi di tahun 2020 – 2030. Hal itu pernah disampaikan dalam seminar nasional kependudukan dan lingkungan hidup.

Generasi Milenial

Generasi milennial adalah salah satu kelompok usia dari beberapa kelompok pembagian subkultur berdasarkan usia (Schiffman dan Kanuk, 2010). Pembagian generasi, atau yang biasa disebut generasi kohort (generational cohorts) merupakan salah satu hal yang perlu diperhatian dalam pengambilan keputusan pemasaran manajerial (Motta et al., 2008). Fore (2012) mengungkapkan bahwa generasi millennial lahir di antara tahun 1980 hingga 2000.



Berdasarkan pengertian diatas tentunya Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat produktivitas generasi milenial yang cukup banyak, lebih lagi Indonesia akan diproyeksikan akan mengahadapi bonus demograsi, di mana populasi usia produktif lebih mendominasi dibanding usia non produktif. Jika proyeksi tersebut tidak terlalu melenceng, maka puncak bonus demografi tersebut akan terjadi dua belas tahun lagi, yaitu pada tahun 2030. Populasi penduduk Indonesia pada tahun tersebut diperkirakan akan didominasi oleh mereka yang berusia produktif, yaitu antara 15 hingga 64 tahun.




Populasi yang mendominasi tersebut saat ini sedang berusia antara 3 hingga 52 tahun. Jika diklasifikasikan, paling tidak, mereka ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu kelompok anak-anak hingga remaja (usia 3-20 tahun), kemudian kelompok orang muda (usia 20-40 tahun), dan kelompok orang dewasa (usia 40-52 tahun). Lupakan mereka yang saat ini sudah dewasa dan berada di usia 40 tahun ataupun di atasnya, karena mereka sesungguhnya sudah cukup matang berkembang, sehingga tidak banyak lagi yang dapat dilakukan untuk mendidik dan mengubah mereka secara karakter dan kepribadian. Ilmu pengetahuan dan Al-quran membenarkan bahwa usia 40 tahun ini merupakan titik awal kedewasaan, sehingga tidak banyak lagi perubahan yang dapat terjadi pada sisi karakter dan kepribadian seseorang.

Tantangan Generasi Milenial

Melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat sudah sewajarnya sebagai generasi milenial harus menunjang kreativitas demi bersaing dengan orang lain. Sebab Indonesia kini sudah masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dari hal tersebut membuat persaingan makin ketat dan berat. Cak nun dalam ceramahnya menyebbutkan “Indonesia ibarat rumah tanpa pagar”. Dapat dianalisa bahwa masuknya MEA cukup menggores luka generasi milenial sebab negara luar akan dengan mudahnya masuk ke Indonesia bekerja dan berinvestasi.

Hal itu cukup mengancam eksistensi generasi milenial yang dalam pepatah lama mengatakan “Setelah keluar mau jadi apa”, kata keluar tersebut menggambakan pendidikan. Sudah saarnya kita mendobrak sebuah perubahan menciptakan kreativitas yang selaras dengan perkembangan peradaban. Budaya misalnya, Pramodya Ananta Toer mengatakan “Menulislah agar kau tidak hilang dari sejarah”, selaras dengan yang di sampaikan Imam Syafi’i “Lingkari ilmumu dengan pena”.

Gerakan Literasi

Literasi merupakan sebuah aktivitas intelektual seperti membaca, menulis, serta berdiskusi, dengan kata lain literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan rpses membaca dan menulis.

Menurut National Institute for Literacy adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, menghitung, bercerita, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Defenisi ini meaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual, dari defenisi ini terkandung makna bahwa literasi tergantung pada ketrampilan yang dibutuhkan lingkungan tertentu.

UNESCO juga menjelaskan hal yang sama. Menurut UNESCO pemahaman orang tentang literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat ketrampilan nyata terlebih khususnya ketrampilan kognitif.

Indonesia memang berhasil menurunkan angka tuna aksara. Namun tantangan berikutnya adalah menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat Indonesia. Penumbuhan budaya baca penting mengingat kemampuan dan keterampilan membaca merupakan dasar bagi seseorang memeroleh pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap. Menjadi generasi literat berarti menuju masyarakat kritis dan peduli. Artinya, kritis terhadap segala informasi yang diterima, sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Sebuah studi yang dilakukan Central Connecticut State University pada tahhun 2016 mengenai Most literate nation in the world menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 60 dari total 61 negara dengan kata lain minat baca masyarakat Indonesia disebut hanya 0,01% atau satu berbanding sepuluh ribu. Ironiisnya angka ini berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet yang mencapai separuh dari total populasi penduduk Indonesia atau sekitar 132,7 juta jiwa. Bahkan data yang dihimpun statustika.com pada januari 2018 disebutkan bahwa 44% populasi masyarakat Indonesia mengambil foto dan video menggunakan ponsel mereka.

Berdasarkan presentase tersebut dapat diprediksikan bahwa generasi milenial kita lebih sering memainkan gedget ketimbang membaca buku, padahal gedget dapat dimanfaatkan untuk mengakses informasi serta menyediakan aplikasi membaca. Watpatt misalnya. Rendahnya minat baca di Indonesia menurut Colin McElwee, Co-Founder Worldreader salah satu dipengaruhi oleh sulitna mengakses buku. Tak hanya itu Colin juga mengatakan bahwa gempuran inovasi di bidang teknologi membuat masyarakat terutama generasi milenial lebih senang menatap layar handpone dibandingkan membaca buku. “Itu sebabnya kita harus mendekatkan akses buku pada generasi milenial, salah satu dengan menghadirkan ebook secara gratis” ujar Colin pada acara kolaborasi Opera dan Wordreader di Jakarta.

Penulis punya tanggapan berbeda dibuktikan dengan lapak baca yang pernah diselenggarakan oleh HMI MPO Cabang Gorontalo bekerja sama dengan dua komunitas literasi yaitu Macarita dan SC Batulis Hipmi-Malut di ALFA 5 Cafe UNG tidak mendapat respon positif dari kalangan mahasiswa yang berlalu lalang dan notabenenya adalah generasi milenial, hanya beberapa saja yang respon dan maun duduk bersama membaca buku. Ini membuktikan lemahnya generasi milenial terhadap minat baca.

Minat baca dipelbagai daerah memiliki presentase yang berbeda-beda, Kota Tidore Kepualauan salah satu daerah yang memang genjot budaya literasi terhadap generasi milenial dibuktikan dengan beberapa komunitas literasi dan penulis kira cukup giat dan bersemangat membantu mencerdaskan anak bangsa. Seperti yang dilakukan oleh Riswan Muhammad salah satu mahasiswa asal Kota Tidore Kepulauan yang membuka lapak baca di lingkungannya sendiri dan mendapat respon positif dari masyarakat setempat khususnya para remaja yang sering menghabiskan waktunya dengan bermain dan berhura-hura kini lebih senang membaca buku.

Dari beberapa contoh kasus diatas sudah cukup membuktikan bahwa peran dan tantangan literasi di era milenial sudah mengglobal dan menyita perhatian kita semua. Sudah saatnya kita bangkitkan gairah membaca untuk melihat dunia lebih luas, membuat buku itu seperti candu sehingga membuat kita tidak bisa terlepas dan merasa gelisah apabila tidak membaca buku. Tentu itu bukan perkara mudah, bisa diawali dengan kebiasaan membaca komik ataupun cerita-cerita pendek yang memantik perhatian diri sendiri. Lama kelamaan akan terbiasa dan menjadi menjadi kebiasaan, seperti pepatah lama mengatakan “ala bisa karena biasa”.

Budayakan gerakan literasi serta menumbuhkan minat baca pada lingkungan sekitar, dimulai dari diri sendiri dan ajaklah teman-teman sekitar untuk bercerita terhadap apa yang telah dibaca, dengan begitu gerakan literasi bisa mewabah ke yang lainnya. Sebab “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927). Dalil tersebut bisa menjadi rujukan untuk bersama-sama dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.


INFORMASI PENTING

PRESENSI HARIAN KBM DARING II SMA NEGERI 2 LIWA

Ilustrasi : Google.com Perhatian : Efektif mulai tanggal 14 September 2020 Wajib mengisi presensi harian mulai pukul 07.30-09.00 ...