Jumat, 31 Juli 2020

TIGA NILAI PENDIDIKAN IDUL KURBAN

Foto : Google.com

Pada hari raya Idul Adha sering juga disebut Idul Kurban, hari ini, yakni sebuah ibadah dengan berkurban memotong hewan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Tuhannya dan wujud peduli kepada sesama manusia.

Selain bentuk ibadah, berkurban juga banyak mengandung nilai-nilai pendidikan, ada tiga nilai pendidikan dalam idul Adha atau Idul kurban. Pertama, pendidikan sosial, yakni bentuk kesadaran dan perwujudan umat manusia sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memotong hewan kurban yang hasilnya dibagikan kepada para tetangga.

Dari proses ini para tetangga dan saudara-saudara kita dapat menikmati makanan yang mungkin selama ini mereka jarang merasakannya.  Dalam hal ini berkurban termasuk dalam kategori ibadah horizontal, ibadah yang turut serta melibatkan sesama manusia dalam mendapatkan ridho Allah.

Secara historis berkurban juga terdapat nilai-nilai sosial yang berdampak terciptanya kebersamaan, kekompakan dan persatuan dalam bermasyarakat. Kedua, pendidikan keyakinan (tauhid) yakni usaha membimbing dan mengenalkan Allah sesuai dengan nilai-nilai ajarannya agar mempunyai kepribadian yang Islami.

Pada pendidikan tauhid ini terdapat peran Siti Hajar yang sangat berpengaruh dalam manancapkan keyakinan dan ke-Esaan Allah swt pada diri Nabi Ismail as sebagai anak yang taat dan patuh kepada Allah dan kedua orangtuanya.

Fakta ini dijelaskan dalam firman Allah SWT  dalam Qs. As-shafat ayat 101-102, 101. “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar”.

Namun dalam sejarah Idul Kurban, peran siti hajar sering kali terlupakan. Tanpa pendidikan dan penanaman tauhid yang kuat kepada Ismail, sulit untuk menerima kenyataan yang datang pada Nabi Ibrahim as yang secara logika sangat bertentangan.

Namun kekuatan tauhid dan akidah yang lurus (salimul a’qidah) yang dimiliki Ismail membawa dirinya seorang anak yang patut dan taat kepada Allah dan nabinya. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam’ (QS 6:162).

Dilihat dari aspek pendidikan dan pembinaannya membawa kesusksesannya dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai Ketuhanan (rububbiyah) kepada Nabi Ismail, yang merupakan salah satu kunci tercapainya pembentukan pribadi muslim yang taat. Ketiga, sosok Siti Hajar yang cerdas, solehah dan pekerja keras mampu memberikan pendidikan karakter (character building) kepada Ismail.

Pendidikan karakter menurut Sjarkawi adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.

Proses tarbiyah dan pendidikan karakter yang dibangun oleh Siti Hajar kepada Ismail memberikan warna akhlak yang kokoh (matinul khuluq). Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-Nya.

Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah swt di dalam QS Al-qalam ayat 4. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”.

Sosok Siti Hajar yang tidak kenal lelah dalam memberikan pendidikan, perhatian, kelembutan, dan kesabaran kepada Ismail membuahkan hasil teladan yang patut ditiru dan panutan bagi kaum ibu-ibu. Sehingga dalam pepatah bahasa Arab Al-ummu madrosatul uula (ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anakya).

Tidak sedikit dalam catatan tinta emas Islam lahirnya para nabi rasul dan tokoh-tokoh Islam berkat peran pendidikan ibunya. Siti Hajar mampu membesarkan menjadikan nabi Ismail suri tauladan seorang diri tanpa didampingi oleh suaminya.

Nabi Isa dibesarkan dan didik menjadi pemuda yang soleh dan sabar berkat Siti Maryam seorang diri. Imam Syafii seorang ulama madzhab yang masyhur sejak kecil sudah yatim, namun berkat kehebatan ibunya beliau menjadi imam madzhab yang disegani dan banyak dianut di dunia.

Tak ketinggalan nabi Muhammad SAW  sejak umur 2 bulan dalam kandungan sudah ditinggal sang ayah dan menjadi yatim, Namun sang ibunda Siti Aminah dengan sabar dan kerja keras membesarkannya menjadikannya nabi Muhammad manusia yang agung dan mulia.

Ini menandakan bahwa pendidikan dari seorang ibu merupakan kunci utama kesuksesan anaknya kelak dan kesabarannya merupakan senjata yang akan membuatnya patuh dan taat kepada Allah dan kepada kedua orangtuanya.

--------------
Penulis : Sopian Asep Nugraha, M.Pd

Sumber : kuningmass.com

Kamis, 30 Juli 2020

SELAMAT IDUL ADHA 1441 H SMA NEGERI 2 LIWA

UNDUH DAN BAGIKAN (KLIK GAMBAR)

IBADAH QURBAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SISWA

Gambar : Google.com
Pelaksanaan ibadah qurban atau Idul Adha terkandung nilai sosial dan religius yang dapat dikembangkan untuk pengembangan karakter siswa. Kegiatan berkurban ini terkandung nilai-nilai karakter yang baik. Pendidikan karakter yang dikembangkan sejalan dengan pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah yaitu revolusi mental. Revolusi mental yang dimaksud karakter mau berbagi.

Pendidikan karakter adalah suatu peluang bagi penyempurnaan diri manusia. Pendidikan karakter harus dipahami sebagai sebuah usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berkeutamaan (Hindarto: 2010.4).

Jadi dapat disimpulkan pendidikan karakter adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi siswa, membiasakan berfikir dan perilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, bernegara sebagai sebuah usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berkeutamaan. Berqurban merupakan berlatih untuk berbagi, menghormati perbedaan baik tata cara pelaksanaan ibadah qurban, maupun hari pelaksanaannya.

Berkurban sesuai dengan tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:
  1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif siswa sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa
  2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku siswa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius
  3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa sebagai generasi penerus bangsa
  4. Mengembangkan kemampuan siswa menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan
  5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (Kemdiknas. 2011: 7).

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber  berikut ini :

Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Kegiatan latihan berkurban sangat mendukung karakter bangsa yang sedang digalakkan.

Selamat berhari raya Idul Qurban.

Sumber : kompasiana.com 

Rabu, 29 Juli 2020

KIHAJAR 2020, WADAH EKSPLORASI SISWA



Kihajar STEM merupakan wadah eksplorasi siswa jenjang SD, SMP, SMA dan SMK sederajat melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi berbasis Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM).

Selengkapnya kunjungi laman : http://kihajar.kemdikbud.go.id



MAJALAH LITERASI INDONESIA JULI 2020



Diterbitkan oleh Mediaguru.id, Majalah Literasi Indonesia edisi Juli 2020 dapat dibaca secara gratis dan diperbolehkan untuk menyebarkan kepada siapapun.


Selasa, 28 Juli 2020

AKSES BERBAGAI LATIHAN, ULANGAN, DAN UJIAN SEKARANG JUGA, GRATIS !



Fitur kumpulan soal dan materi evaluasi siswa yang dikelompokkkan berdasarkan topik ajar. Tersedia juga berbagai akses soal latihan, ulangan, dan ujian.

Silakan akses tautan berwarna merah di bawah ini :



LANGKAH PENTING PERLINDUNGAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA, MENUJU PENGAKUAN DUNIA


Gambar : Google.com

Upaya pencatatan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak tahun 2010 kini mulai memperlihatkan hasil. Sampai dengan akhir tahun 2019, tercatat 1.086 mata budaya dari seluruh nusantara telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Dua belas di antaranya bahkan telah diakui dunia dengan diperolehnya status Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda dari The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Kedua belas WBTb Indonesia yang telah diakui dunia sampai dengan tahun 2019 adalah pertunjukan wayang, keris, batik, pendidikan dan pelatihan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas, angklung, Tari Saman, Tas Noken, tiga genre tari tradisional di Bali, Pinisi sebagai seni pembuatan kapal di Sulawesi Selatan, pantun, tradisi Pencak Silat, dan gamelan. Pengakuan diperoleh setelah melalui pengajuan resmi WBTb Indonesia oleh pemerintah Indonesia kepada UNESCO.

Pencatatan mata budaya yang kemudian dilanjutkan dengan penetapan WBTb Indonesia merupakan langkah penting dalam upaya perlindungan dan pelestarian atas keragaman budaya takbenda di Indonesia. Beberapa peristiwa “diakuinya” mata budaya Indonesia oleh negara tetangga pada masa yang lalu seakan membuktikan bahwa bangsa Indonesia belum memiliki perhatian khusus terhadap upaya pelestarian kebudayaan. Namun, dengan adanya kegiatan pencatatan, maka jalan menuju pengakuan secara luas terhadap mata budaya Indonesia pun semakin terbuka.

Konvensi UNESCO 2003

Jika menilik ke belakang, langkah awal kegiatan pencatatan WBTb dimulai dari pertemuan UNESCO di Paris, Prancis, tanggal 17 Oktober 2003. Pada sesi ke-32, pertemuan menyetujui Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage atau Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda. Untuk itu, konvensi perlu disahkan dengan Peraturan Presiden. Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2007 tentang Pengesahan Konvensi untuk Perlindungan Warisan Budaya kemudian hadir dan menjadi dasar bagi Indonesia untuk melakukan kewajiban pencatatan mata budaya.

Penetapan status budaya takbenda menjadi WBTb diberikan oleh menteri yang membidangi kebudayaan, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, berdasarkan rekomendasi tim ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Sampai dengan tahun 2019, koordinasi penetapan WBTb berada di bawah Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kini, penetapan WBTb menjadi tugas Direktorat Pelindungan Kebudayaan.

Dalam Konvensi UNESCO tahun 2003 tentang Perlindungan WBTb pasal 2 ayat 2 dijelaskan bahwa WBTb adalah berbagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan (serta instrumen, obyek, artefak dan ruang-ruang budaya yang terkait dengannya); termasuk di dalamnya masyarakat, kelompok, dan dalam beberapa kasus, perorangan, merupakan bagian dari warisan budaya tersebut.

Sifat WBTb yakni diwariskan dari generasi ke generasi dan secara terus menerus diciptakan kembali oleh masyarakat dan kelompok dalam menanggapi lingkungan sekitarnya serta interaksi dengan alam dan sejarah mereka. WBTb juga memberikan rasa identitas yang berkelanjutan, sebagai penghargaan terhadap perbedaan budaya dan kreativitas manusia.

Untuk tujuan konvensi, pertimbangan hanya akan diberikan kepada WBTb yang kompatibel dengan instrumen hak asasi manusia internasional yang berlaku, serta dengan persyaratan saling menghormati antarkomunitas, kelompok, dan individu, dalam upaya pembangunan berkelanjutan.

Lima Domain

Secara khusus, WBTb dibagi atas lima domain, yakni tradisi lisan dan ekspresi; seni pertunjukan; adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan; pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta; dan/atau keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Budaya takbenda yang termasuk ke dalam tradisi lisan dan ekspresi adalah bahasa, puisi, cerita rakyat, mantra (yang terpengaruh dari budaya lokal), doa (yang merupakan pengaruh dari agama), nyanyian rakyat, peribahasa, teka-teki rakyat, dan pertunjukan dramatik seperti seni teater yang bersifat spontan, contohnya lenong.

Salah satu tradisi lisan dan ekspresi awal yang ditetapkan menjadi WBTb Indonesia adalah aksara Ka Ga Nga yang merupakan warisan bersama. Dalam perspektif sejarah, secara umum bangsa Indonesia mengenal aksara daerah pada dasarnya berasal dari India, termasuk aksara Ka Ga Nga. Penyebaran aksara Ka Ga Nga banyak terdapat di daerah Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, dan Lampung. Budaya takbenda ini ditetapkan menjadi WBTb pada tanggal 1 Januari 2013.

Pada domain seni pertunjukan, termasuk di dalamnya adalah seni tari, seni suara, seni musik, seni teater, dan seni gerak, seperti akrobat dan bela diri. Budaya Takbenda yang telah ditetapkan menjadi WBTb Indonesia pada domain ini contohnya adalah Tari Maengket dari Sulawesi Utara yang penetapannya disetujui pada tahun 2013.

Tari Maengket merupakan tari tradisional masyarakat Minahasa yang dilakukan dengan tujuan menerangi, membuka jalan, dan mempersatukan masyarakat pendukungnya. Hal ini dilakukan dalam situasi kegiatan panen padi (Maowey/Makamberu), selamatan rumah baru (Marambak), dan pergaulan muda-mudi (Lalayaan).

Kemudian pada domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan, termasuk di dalamnya adalah upacara tradisional, hukum adat, sistem organisasi sosial, sistem kekerabatan tradisional, sistem ekonomi tradisional, dan perayaan tradisional. Salah satu contoh WBTb dalam domain ini adalah Pemamanan dari Aceh yang ditetapkan tahun 2018.

Istilah pemamanan tidak lepas dari kata paman, yakni laki-laki dari garis ibu, bisa sebagai adik atau kakak ibu. Masyarakat suku Alas di Aceh mempercayai paman sebagai penanggung jawab atas perhelatan pesta sunat dan nikah sang keponakan. Dalam pesta sunat, sang paman bertanggung jawab memberikan tunggangan kuda kepada anggota keluarga keponakan dan menuruti segala permintaan sang keponakan.

Lalu pada domain pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai alam, kosmologi (perbintangan, pertanggalan, navigasi), kearifan lokal seperti misalnya pengurangan risiko bencana berbasis budaya, dan pengobatan tradisional. Salah satu WBTb yang sangat dikenal masyarakat Indonesia adalah minyak kayu putih dari Maluku, khususnya Pulau Buru.

Masyarakat Buru berupaya menggunakan pengetahuan mereka untuk menjadikan daun kayu putih sebagai tanaman yang berkhasiat dan sebagai obat tradisional. Tak pernah diketahui secara pasti kapan industri kecil (penyulingan minyak kayu putih) ini dimulai. Namun, kebiasaan ini sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang dan berlangsung turun-temurun. Dari keahlian menyuling minyak kayu putih, masyarakat Buru banyak yang menjadi pengrajin minyak kayu putih. Minyak kayu putih ini kemudian dijual hingga ke luar Pulau Buru, bahkan hingga ke berbagai pelosok nusantara.

Domain kelima WBTb adalah keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Domain ini terdiri atas teknologi, arsitektur, pakaian, kerajinan, kuliner, transportasi, dan senjata yang kesemuanya berbasis tradisional. Situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id mencatat, salah satu budaya takbenda yang berhasil ditetapkan sebagai WBTb pada tahun 2019 adalah Mbitoro atau patung Mbitoro dari Papua.

Patung Mbitoro adalah seni adiluhung yang dimiliki suku Kamoro, salah satu suku di Papua. Patung Mbitoro rata-rata memiliki tinggi di atas satu meter, terbuat dari kayu bulat dan utuh, serta berdiameter sekitar satu meter. Patung itu harus dimiliki oleh sebuah Karapao (rumah adat). Mbitoro berdiri tegak di depan rumah adat yang dihiasi dengan berbagai ornamen yang melambangkan kehidupan alam dan makhluk hidup. Mbitoro sangat penting dalam tiap upacara adat penduduk Kamoro.

Daftar WBTb Indonesia masih terus akan bertambah. Hingga pertengahan tahun 2020, pencatatan budaya takbenda dari berbagai daerah mencapai jumlah 9.748. Artinya, banyak mata budaya Indonesia yang masih dalam proses melengkapi atau memperbaiki berkas, baik itu formulir, foto, video, atau kajian terkait. Kelengkapan ini sangat diperlukan agar mata budaya tersebut kuat secara substansi dan akhirnya dapat ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Lamanya proses ini tentu saja relatif, dapat memakan waktu singkat atau bahkan sangat lama, namun tetap penting untuk dilakukan sebagai langkah perlindungan dan pelestarian budaya Indonesia. Terlebih lagi, dapat menjadi langkah awal yang kuat bagi pengakuan dunia melalui UNESCO. 


Senin, 27 Juli 2020

BUKU KURIKULUM 2013 REVISI UNTUK SMA



Buku Kurikulum 2013 Revisi Terbaru untuk kelas X, XI, dan XII semua mata pelajaran wajib. Kunjungi tautan berwarna merah di bawah ini :

  1. Kumpulan Buku Kelas X
  2. Kumpulan Buku Kelas XI
  3. Kumpulan Buku Kelas XII


Minggu, 26 Juli 2020

MENUMBUHKAN MINAT BACA SEJAK DINI

Foto : Aktivitas Lapak Baca Liwa


Anak-anak masa kini lebih menyukai menonton televisi dan bermain game. Ditambah pesatnya kemajuan teknologi, seperti menjamurnya telepon pintar, mereka semakin jauh dari kegiatan membaca dan kegiatan lain yang lebih mendatangkan manfaat positif.

Padahal membaca akan membuat anak lebih kaya perbendaharaan kosakata, memperlancar kemampuan berbicara, menambah pengetahuan di luar yang diajarkan orangtua dan lingkungan, menambah motivasi, meningkatkan kreativitas dan satu lagi, dengan membaca akan mempengaruhi karakter anak. Sebaliknya, anak-anak yang kesehariannya hanya diisi dengan menonton televisi dan bermain game, mereka akan berpotensi besar tumbuh menjadi anak yang manja, egois dan individualis.

Menumbuhkan minat baca sejak dini akan mempermudah mewujudkan budaya baca dan tradisi keberaksaraan pada anak ke depannya. Namun mengimplementasikan kegiatan positif tersebut pada anak bukan perkara mudah. Selain karena lebih cenderung terpatron kesukaanya pada digitalisasi, anak juga tidak bisa dipaksa begitu saja untuk membaca buku.

Berikut beberapa cara yang efektif membuat anak gemar membaca :

Pertama, sediakan banyak bahan bacaan berupa buku, majalah, komik, koran dan lain sebagainya yang relevan untuk anak, atau buat semacam perpustakan di rumah. Melalui hal tersebut anak telah terbiasa dekat dengan bahan bacaan dan tentunya akan mempermudah anak dalam mengakses bacaan.

Kedua, contohkan pada anak meluangkan waktu setiap harinya untuk membaca. Hal ini dapat dilakukan ketika pagi hari sebelum berangkat kerja atau sepulang kerja ketika anak sedang di rumah. Orang tua adalah figur pertama kali yang didolakan anak, apabila idolanya gemar membaca anak otomatis akan menirunya.

Ketiga, orangtua harus rajin membacakan buku terhadap anak setiap harinya. Membacakan buku yang memuat hal-hal dunia anak, mulai dari imajiner maupun pengetahuan lain, tentunya disesuaikan dengan umur anak. Intinya hal-hal yang menghibur sekaligus mendidik buah hati. Membacakan buku terhadap anak dapat dilakukan setelah anak selesai belajar, atau sebelum ia tidur. Jadi, orang tua perlu  menciptakan kesan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan. 
 
Keempat, orang tua perlu menambah intensitas komunikasi dengan anak dengan menceritakan hasil bacaannya. Selain bercerita, orang tua juga meminta diceritakan hasil bacaan anaknya, pengalaman menarik atau hal-hal yang dapat diteladani. Komunikasi semacam itu akan menambah motivasi anak untuk terus menambah bacaan setiap harinya.

Kelima, libatkan anak ketika orangtua hendak membeli buku. Ajarkan padanya tentang lebih berharga membelanjakan hasil tabungan untuk membeli buku, ketimbang untuk membeli barang-barang lain yang tidak terlalu penting.

Keenam, satu atau dua minggu sekali ajak anak untuk mengunjungi perpustakaan umum atau perpustakaan keliling. Berilah kesempatan kepada anak untuk melihat-lihat koleksi perputakaan tersebut dan meminjamnya untuk dibaca di rumah. Selain itu, orang tua juga dapat merekomendasikan anak sering-sering mengunjungi perpustakaan sekolah, untuk membaca di tempat atau meminjamnya dan dibaca ketika jam istirahat. 

Tulisan : Hendrik Efriyadi - Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta


Sabtu, 25 Juli 2020

PANDUAN PEMBELAJARAN JARAK JAUH BELAJAR DI RUMAH MASA COVID-19



Unduh Panduan Pembelajaran Jarak Jauh Belajar di Rumah Masa C-19 untuk terus kobarkan semangat belajar melalui tautan dibawah ini.

Klik tautan berwarna merah : di sini

PEMBELAJARAN ONLINE DI TENGAH PANDEMI COVID-19, TANTANGAN YANG MENDEWASAKAN

Ilustrasi : Google.com

Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat dunia mendefinisikan makna hidup, tujuan pembelajaran dan hakikat kemanusiaan. Jika selama ini manusia-manusia dipaksa hidup dalam situasi serba cepat, pekerjaan tanpa henti, dan kejaran target pertumbuhan ekonomi dalam sistem kompetisi. Namun, persebaran virus Corona (Covid-19) yang menjadi krisis besar manusia modern, memaksa kita untuk sejenak bernafas, berhenti dari pusaran sistem, serta melihat kembali kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya. Manusia dipaksa ‘berhenti’ dari rutinitasnya, untuk memaknai apa yang sebenarnya dicari dari kehidupan.
Indonesia punya tantangan besar dalam penanganan Covid-19. Dari semua aspek yang menjadi tantangan saat ini, saya konsentrasi pada aspek pendidikan, yang esensial untuk didiskusikan. Aspek pendidikan menjadi konsentrasi penulis, karena telah berpuluh tahun bergelut di bidang ini dalam kapasitas sebagai peneliti, praktisi hingga perumus kebijakan.
Pandemi Covid-19 memaksa kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19. Jadi, kebijakan ini diupayakan untuk memperlambat laju persebaran virus Corona di tengah masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merespon dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini.
Tantangan Pembelajaran
Persebaran virus Corona yang massif di berbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah. Kita bisa melihat bagaimana perubahan-perubahan di bidang teknologi, ekonomi, politik hingga pendidikan di tengah krisis akibat Covid-19. Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan tindakan sekaligus selalu belajar hal-hal baru. Indonesia tidak sendiri dalam mencari solusi bagi peserta didik agar tetap belajar dan terpenuhi hak pendidikannya.  Sampai  1 April 2020, UNESCO mencatat setidaknya  1,5 milyar anak usia sekolah yang terdamapk Covid 19 di 188 negara termasuk 60 jutaan diantaranya ada di negara kita.
Semua negara terdampak telah berupaya membuat kebijakan terbaiknya dalam menjaga kelanggengan layanan pendidkan. Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan nyata yang harus segera dicarikan solusinya: (1) ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, (2) keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, (3) keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi Pendidikan seperti internet dan kuota, (4) relasi guru-murid-orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral.
Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orang tua bahkan semua orang yang berada dalam rumah. Pembelajaran teknologi informasi memang sudah diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun, pembelajaran daring yang berlangsung sebagai kejutan dari pandemi Covid-19, membuat kaget hampir di semua lini, dari kabupaten/kota, provinsi, pusat bahkan dunia internasional.
Sebagai ujung tombak di level paling bawah suatu lembaga pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk membuat keputusan cepat dalam merespon surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengharuskan sekolah untuk memberlakukan pembelajaran dari rumah. Pendidik merasa kaget karena harus mengubah sistem, silabus dan proses belajar secara cepat. Siswa terbata-bata karena mendapat tumpukan tugas selama belajar dari rumah. Sementara, orang tua murid merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas, di samping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis.
Jadi, kendala-kendala itu menjadi catatan penting dari dunia pendidikan kita yang harus mengejar pembelajaran daring secara cepat. Padahal, secara teknis dan sistem belum semuanya siap. Selama ini pembelajaran online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum sebagai cara berpikir, sebagai paradigma pembelajaran. Padahal,  pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Pembelajaran secara online harusnya mendorong siswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Dari tantangan-tantangan itu, kita harus berani melangkah untuk menjadikan pembelajaran online sebagai kesempatan mentransformasi pendidikan kita. Ada beberapa langkah yang dapat menjadi renungan bersama dalam perbaikan sistem pendidikan kita khususnya terkait pembelajaran daring:
Pertama, semua guru harus bisa mengajar jarak jauh yang notabene harus menggunakan teknologi. Peningkatan kompetensi pendidik di semua jenjang untuk menggunakan aplikasi pembelajaran jarak jauh mutlak dilakukan. Memang jumlahnya sangat banyak, untuk memastikan sekitar 3 jutaan guru di Indonesia memiliki kompetensi yang memadai dalam memanfaatkan teknologi tentu bukan perkara mudah. kompetensi minimal TIK guru level 2 harus segera diwujudkan termasuk kemampuan melakukan vicon (video conference) dan membuat bahan ajar online. Level 2 ini merupakan pengelompokan komptensi TIK guru yang ideal berdasarkan Teacher ICT Competencies Framework oleh UNESCO. Level tertinggi adalah level 4 dimana guru sudah mampu menjadi trainer bagi guru yang lain. Jika kompetensi guru sudah level2, maka guru akan mampu menyiapkan sistem belajar, silabus dan metode pembelajaran dengan pola belajar digital atau online. Pemerintah tidak harus sendiri, upaya menggandeng banyak pihak penyedia portal daring sangat tepat dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Namun leading sektor urusan kebijakkan pembelajaran daring  harus dikendalikan dibawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Kedua, pemakaian teknologipun juga tidak asal-asalan, ada ilmu khusus agar pemanfaatan teknologi dapat menjadi alat mewujudkan tujuan Pendidikan yakni teknologi Pendidikan (TP). Pembelajaran online tidak hanya memindah proses tatap muka menggunakan aplikasi digital, dengan disertai tugas-tugas yang menumpuk. Ilmu teknologi pendidikan mendesain sistem agar pembelajaran online menjadi efektif, dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan secara khusus. Prinsip-prinsip pemanfaatan teknologi yang harus menjadi acuan guru dalam meamanfaatkan teknologi  yaitu mampu menghadirkan fakta yang sulit dan langka ke dalam kelas, memberikan ilustrasi fenomena alam dan ilmu pengetahuan, memberikan ruang gerak siswa untuk bereksplorasi, memudahkan interaksi dan kolaborasi antara siswa-guru dan siswa-siswa, serta menyediakan layanan secara individu tanpa henti. Namun sangat sedikit guru yang memahami prinsip-prinsip diatas. Hal ini menuntut stakeholder terkahit utamanya para Pengembang Teknologi Pembelajaran harus lebih banyak berinovasi dan mencari terobosan pembelajaran di masa darurat seperti Covid-19 saat ini.
Ketiga, pola pembelajaran daring harus menjadi bagian dari semua pembelajaran meskipun hanya sebagai komplemen. Intinya supaya guru membiasakan mengajar online. Pemberlakuan sistem belajar online yang mendadak membuat sebagian besar pendidik kaget. Ke depan, harus ada kebijakan perubahan sistem untuk pemberlakuan pembelajaran online dalam setiap mata pelajaran. Guru harus sudah menerapkan pembelajaran berbasis teknologi sesuai kapasitas dan ketersediaan teknologi. Inisiatif kementerian menyiapkan portal pembelajaran daring Rumah Belajar patut didukung meskipun urusan daring saat covid 19 yang memaksa siswa dan guru menjalankan aktifitas di rumah tetap perlu dukungan penyedia layanan daring yang ada di Indoesia
Empat,  guru harus punya perlengkapan pembelajaran online. Peralatan TIK minimal yg harus dimiliki guru adalah laptop dan alat pendukung video conference. Keberadaan pernagkat minimal yang harus dimiliki guru sangat perlu dipikirkan Bersama baik pemerintah kab/kota, provinsi dan pusat termasuk ortang tua untuk sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat. Sudah banyak fintech yang bergerak dibidang pemberian bantuan pengadaan perangkat teknologi baik untuk siswa, guru maupun sekolah.
Lima, ketimpangan infrastruktur digital antara kota besar dan daerah harus dijembatani dengan kebijakan teknologi afirmasi untuk daerah yang kekurangan. Akses internet harus diperluas dan kapasitas bandwithnya juga harus ditingkatkan. Pemerintah Indonesia sudah berhasil membangun infrastruktur komunikasi Palapa Ring yang diresmikan Bapak Presiden Joko Widodo di akhir tahun 2019 menjadi tulang punggung infrastruktur digital dari Aceh hingga Papua. Tapi, jangkauan akses harus diperluas agar sebanyak mungkin sekolah, pendidik dan siswa  merasakan manfaatnya.
Pandemi Covid-19 memang menjadi efek kejut bagi kita semua. Dunia seolah melambat dan bahkan terhenti sejenak. Negara-negara besar dan modern terpukul dengan sebaran Virus Corona yang cepat, mengakibatkan ribuan korban meninggal yang tersebar di berbagai negara. Indonesia mendapatkan banyak tantangan dari Covid-19 ini, yang membuat kita semua harus bersama-sama saling menjaga. Kelima isu penting diatas akan menjadi penentu seberapa cepat kita akan mampu meratakan kurva kecemasan siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan kita semua.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, sistem pendidikan kita harus siap melakukan lompatan untuk melakukan transformasi pembelajaran daring bagi semua siswa dan oleh semua guru. Kita memasuki era baru untuk membangun kreatifitas, mengasah skill siswa, dan peningkatan kualitas diri dengan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi kita dengan teknologi. 
Penulis : Dr. Gogot Suharwoto (Plt. Kapusdatin Kemendikbud)

Jumat, 17 Juli 2020

INFORMASI PENTING

PRESENSI HARIAN KBM DARING II SMA NEGERI 2 LIWA

Ilustrasi : Google.com Perhatian : Efektif mulai tanggal 14 September 2020 Wajib mengisi presensi harian mulai pukul 07.30-09.00 ...