Sabtu, 27 Juni 2020

JEJAK LITERASI LIWA | oleh Udo Z. Karzi

Foto : Eka Fendiaspara

Senja hari, ketika matahari telah terbenam penuh keindahan di balik gunung-gunung di sekeliling tasik itu, barulah ia berangkat ke Liwa. Malam sampailah ia di sana....

Keesokan harinya Yusuf pergi mengikuti Sukartono pergi ke Keroi. Jalan yang tiada putus-putus berkelok-kelok menurun menuju ke bawah, hutan yang hijau meliputi lurah dan tebing sepanjang jalan dan akhirnya pemandangan yang dahsyat ke arah lautan Samudra yang biru luas membentang …”

ITULAH jejak literasi tentang keindahan Liwa (Lampung Barat, termasuk Pesisir Barat kini) dalam roman Layar Terkembang karya St. Takdir Alisyahbana (diterbitkan pertama kali oleh Balai Pustaka, 1936) yang tercantum di halaman 54.

Di halaman lain Layar Terkembang ini tertulis: “…telah sering ia memikir apakah sebabnya maka liburan ini lain rasanya dari sediakala. Dan di tengah keindahan alam di perjalanan ke Liwa dan ke Keroi, kegelisahan hatinya itu bertambah, seakan-akan oleh tamasya kepermainan dan kebesaran alam yang dilihatnya …” (Surat Maria kepada Yusuf dalam dalam Layar Terkembang)

Sebelum membahas lebih lanjut tentang jejak literasi Liwa, biar kelihatan ilmiah sedikit, perlu dibahas pengertian dari literasi.

Literasi

Secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar. Kirsch dan Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Lebih jauh, seorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya.

Sekarang ini, generasi literat mutlak dibutuhkan agar bangsa kita bisa bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Wagner (2000) menegaskan bahwa tingkat literasi yang rendah berkaitan erat dengan tingginya tingkat drop-out sekolah, kemiskinan, dan pengangguran. Ketiga kriteria tersebut adalah sebagian dari indikator rendahnya indeks pembangunan manusia. Menciptakan generasi literat merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar.

Untuk keperluan makalah ini saya perlu membatasi bahasan (1) mengenai informasi tertulis tentang Liwa, terutama karya sastra, baik dari penulis yang berasal dari Liwa maupun yang bukan dari Liwa; dan (2) tentang orang-orang Liwa, bisa lahir di Liwa, besar di Liwa atau ada keturunan Liwa.

Tentang Liwa

Literatur yang lebih tua tentang Liwa adalah Catatan Perjalanan ke Danau Ranau di Pedalaman Krui yang ditulis J. Pattullo di tahun 1820 (ada di buku Malayan Miscellanies Vol II, terbitan Sumatran Mission Press, Bengkulu, 1822), yang diterjemahkan Yulizar Fadli dan dimuat di Jurnal Kebudayaan Akal Volume 1/Januari 2013 hlm. 28-34.

Perjalanan rombongan J. Pattulo dimulai dari Kroer (Krui) pada 19 September 1820, menginap di dusun Uluh. Sehari kemudian bermalam  di Weya Assat (Way Asat), lalu berjalan antara lain ke Pulau Pisang, Lumbok, Surabaya di Banding Ranau, Gunung Seminung, Sukau, Lewah (Liwa), dan kembali ke Krui. Kita kutipkan:

"Pagi hari tanggal 5, kami meninggalkan Sukau ke Lewah (Liwa) di mana kami sampai pada sore hari -- juga tak beruntung selama perjalanan hari ini karena tidak bisa menentukan perjalanan. Dewa Lewah menawarkan sesuatu yang tak berarti. Desa ini terletak sangat rendah dan iklimnya sangat dingin dan lembab....

Lewah diatur seorang Pangeran dari sebelas penasehat yang bekerjasama dengan Kerabat Terhormat. Budaya dan kebiasaan benar-benar sama dengan para penduduk di Lampung lainnya."

Tulisan yang tidak menarik karena agaknya Pattulo kurang mahir memainkan pena dan tidak mampu menyerap keindahan tempat yang ia kunjungi. Walaupun demikian, tulisan ini penting mengingat minimnya literatur yang membicarakan Liwa (atau Lampung pada umumnya). Dalam catatannya ini, Pattulo membuat data populasi penduduk daerah Lewah yang terdiri dusun-dusun: Bumi Agung, Surabaya, Kasugihan, Paggar, Negeri, Perwatta, Banding, Waye Mengaku, Tanjung, Gedong, Sungie, dan Genting.

Beberapa sastrawan, terutama menuliskan tentang Liwa dalam sajak-sajak mereka. Misalnya, Fina Sato, penyair kelahiran Subang, Jawa Barat, 16 Februari 1984 menulis sajak:

Liwa

kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?

ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara

di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?

kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, perempuanku!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan

Bumi Singgah, 2006

Keterangan:
Bidok              : bendungan-bendungan tempat ikan (Lampung)
Tiyuh              : kampung (Lampung)
Way                : sungai (Lampung)

Orang Liwa Menulis

Memang kalau hendak dibandingkan dengan Sumatera Barat, Lampung -- apatah lagi Liwa -- memang belum apa-apanya. Tapi, orang Liwa patut berbangga karena sesungguhnya dunia literasi di daerah ini telah lama hidup.

Adalah Haji Sulaiman Rasjid bin Lasa (1898-1976) yang menyusun buku fikih pertama di negeri ini. Fiqih Islam, terbit 1951, karangan pria kelahiran Pekon Tengah, Liwa, tahun 1898, menjadi buku wajib di perguruan tinggi dan menengah di Indonesia serta Malaysia, sampai sekarang. Pendidikannya: Sekolah Mualim, sekolah guru di Mesir dan Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhasuhus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) selesai tahun 1935. Tahun 1936 ia ditunjuk Belanda sebagai Ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung, lalu tahun 1937--1942 menjadi Pegawai Tinggi Agama pada Kantor Syambu dalam Zaman Pendudukan Jepang. Ia meninggal di Bandar Lampung, 26 Januari 1976.

Sejawat Sulaiman Rasyid, Rais Latief (1900-1977) juga menyusun terjemahan hadis sahih Muslim bersama dengan H. Abdul Razak (asal Kotabumi). Buku-buku tersebut merupakan cikal-bakal buku-buku agama berbahasa Indonesia karya anak bangsa kemudian hari. Buku tersebut sangat populer beredar dan dicetak berulang-ulang di Malaysia dan Singapura.

Sekitar 1962 setelah pensiun sebagai pegawai tinggi Departemen Agama, ketimbang mengajar di perguruan tinggi agama Islam di Jakarta, beliau memilih pulang ke Lampung. Di Lampung Rais kembali memimpin Sekolah Tsanawiah Muhammadiyah Pekon Tengah Sebarus. Sekolah ini sampai kelas IV. Karena tidak ada aliah di Liwa, para alumnusnya melanjutkan di kota-kota lain seperti Yogya. Dengan kualitas memadai, lulusan tsanawiah ini bisa diterima di kelas II aliah atau SMA di Yogya.

Rais tetap mengajar sampai berusia 70 tahun. Beliau wafat pada usia 77 tahun dan dikebumikan di Desa Sebarus Liwa di dekat tempatnya mengajar dan di tengah masyarakat yang begitu dicintainya.

Anak Rais Latief, Sazli Rais kelahiran Sebarus, Liwa, Lampung Barat, 14 Desember 1944 juga lekat dengan dunia pers yang tidak bisa tidak bersentuhan dengan tulis menulis. Suaranya berat dan mengalun empuk mengetuk ruang-ruang keluarga Indonesia pada era 1970-80-an. Sebagai pembawa berita di TVRI dan RRI, nama, wajah, dan suara Sazli Rais populer sekali, menembus gunung-gemunung di pedalaman Lampung Barat, tanah kelahirannya.

Masih dari Sebarus, Lincolin Arsyad (lahir di Liwa, 21 Juli 1958) Lincolin Arsyad mampu menembus jajaran ekonom elite di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, gudangnya ekonom di Tanah Air bersama Universitas Indonesia.

Ia dilantik sebagai dekan FEB-UGM pada 14 November 2007. Dengan demikian, Lincolin-lah dekan pertama di lingkungan UGM yang berasal dari Lampung. Prestasi Lincolin sangat gemilang karena kompetisi dosen di UGM dikenal sangat terstruktur dan ketat, terlebih untuk fakultas ekonomi. Ia menulis beberapa textbook ilmu ekonomi.

Generasi selanjutnya mulai lahir beberapa nama yang menggeluti dunia kewartawanan dan kesusastraan: Imron Nasri (1965-..), redaktur Majalah Suara Muhammadiyah Yogyakarta, yang banyak menulis dan mengeditori buku-buku nonfiksi, ZA Mathika Dewa (1970-1998) melahirkan manuskrip kumpulan sajak Pencarian, Udo Z. Karzi (1970-...) menulis buku puisi Momentum (2002), Mak Dawah Mak Dibingi (2007), dan Mamak Kenut (2012).  Lalu Muhammad Harya Ramdhoni (...) menulis novel sejarah Perempuan Penunggang Harimau (2011) dan kumpulan cerpen Kitab Hikayat Orang-orang yang Berjalan di Atas Air (2012). Dan yang terkini Fitri Yani (lahir 1986) yang melahirkan buku puisi Dermaga Tak Bernama (2010) dan sedang mempersiapkan buku kumpulan sajak berbahasa Lampung.

Penutup

Terlihat alam dan manusia Liwa sangat menarik untuk ditulis dalam bentuk apa pun: puisi, cerpen, novel, catatan perjalanan, feature, atau studi.

Jadi, apalagi?


Sumber : pustakalabrak

Kamis, 25 Juni 2020

DAFTAR PESERTA DIDIK BARU SMA NEGERI 2 LIWA TP. 2020/ 2021

BERIKUT DAFTAR PESERTA DIDIK BARU SMA NEGERI 2 LIWA TP. 2020/ 2021 YANG TELAH MELAKSANAKAN PROSES LAPOR DIRI/ DAFTAR ULANG. 

IKUTI TERUS INFORMASI DI LAMAN WEBSITE INI DAN SELURUH MEDIA SOSIAL RESMI SEKOLAH UNTUK MENGETAHUI PERKEMBANGAN TERBARU.






Selasa, 23 Juni 2020

SELAMAT BERGABUNG PESERTA DIDIK BARU SMA NEGERI 2 LIWA TP. 2020/ 2021

SELAMAT BERGABUNG PESERTA DIDIK BARU SMA NEGERI 2 LIWA TP. 2020/ 2021
(DAFTAR NAMA YANG DINYATAKAN DITERIMA DIUMUMKAN DI PAPAN PENGUMUMAN SEKOLAH,
PADA SELASA, 23 JUNI 2020, PUKUL 08.30 WIB)

Sabtu, 20 Juni 2020

BACA KETENTUAN DAFTAR ULANG PPDB SMA NEGERI 2 LIWA TP. 2020/ 2021


Kepada seluruh calon peserta didik baru yang telah mendaftar dan dinyatakan diterima pada proses PPDB SMA Negeri 2 Liwa TP. 2020/ 2021. Harap hadir langsung ke sekolah bersama orang tua/ wali dengan protokol kesehatan dan membawa berkas sebagai berikut :
  1. Bukti Pendaftaran Asli
  2. Surat Pernyataan Orang Tua dan Siswa (disediakan Panitia) bermaterai 6000
  3. Satu lembar Pas Foto ukuran 1 R berlatar merah memakai seragam sekolah asal
  4. Satu Map Snelhecter Plastik (Kuning untuk Putera dan Hijau untuk Puteri).

TATA CARA DAFTAR ULANG
  1. Daftar ulang akan dilaksanakan pada 23-24 Juni 2020, pukul 08.30-12.00 WIB
  2. Calon peserta didik baru, hadir bersama orang tua/ wali langsung ke sekolah ; memakai masker, berpakaian sopan, dan memakai sepatu
  3. Semua calon peserta didik baru, akan mengikuti uji kesehatan diri di loket yang telah disiapkan Panitia, sebagai syarat melaksanakan proses daftar ulang
  4. Bersama orang tua/ wali menghadap panitia PPDB dan menyerahkan berkas daftar ulang.

PENGUMUMAN CALON PESERTA DIDIK BARU

Informasi daftar calon peserta didik baru SMA Negeri 2 Liwa TP. 2020/ 2021 dapat dilihat pada papan pengumuman di SMA Negeri 2 Liwa, mulai pukul 08.00 WIB, Selasa 23 Juni 2020.

Kamis, 18 Juni 2020

TONTON CARA JADIKAN SEKOLAH/ MADRASAH MODEL LITERASI

M. Maghfur Qumaidi, Gurusianer Inspiratif 2018 di Gurusiana, mengantarkan MTsN 7 Kabupaten Kediri sebagai Madrasah Model Literasi Kementerian Agama Kanwil Provinsi Jawa Timur. Kiat suksesnya dibagikan khusus kepada gurusianer pada Talk Show TNGP 2019. Ini rahasianya, sekarang dibeber terang-terangan untuk Anda semua.

Simak video berikut sampai habis. 

Rabu, 17 Juni 2020

TIPS MENULIS PUISI DARI PARA PENYAIR BESAR

Sumber : Google.com

Puisi secara umum jauh lebih pendek dari karya sastra lain seperti cerpen dan novel. Maka, sering dikatakan bahwa puisi menjadi gerbang pertama bagi penulis karya sastra pemula, sebelum ia kemudian menulis karya yang lebih panjang seperti cerpen dan novel. Lalu, apakah menulis puisi itu mudah? Berikut ada beberapa tips menulis dari para penyair besar Indonesia.
A. SAPARDI DJOKO DAMONO
Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa menulis puisi sebetulnya mudah. Namun begitu, ada rambu-rambu yang sebaiknya diikuti ketika menulisnya:
1. Buatlah Jeda
Menurut Sapardi, penulis tidak boleh terlibat secara emosional dengan apa yang akan ditulis. Maka, ketika hendak menulis sajak, kita harus memberi jeda/jarak.
Misalnya dalam kondisi marah, Sapardi tidak akan menulis puisi. Karena jika memaksakan menulis, maka yang keluar hanyalah kemarahan-kemarahan. Jika dirasa sudah ada jarak dengan peristiwa, barulah ia berani melanjutkan menulis puisinya lagi.
Namun, ia mengaku, ada satu sajak yang dilanggarnya. Yaitu sajak tentang Marsinah yang begitu panjang, dibuat dalam kurun waktu tiga tahun. Lamanya proses pembuatan sajak itu salah satunya karena ditulis dalam kondisi marah. Ketika melanjutkan, marah lagi. Berhenti. Melanjutkan lagi, ternyata marah lagi. Berhenti. Hingga akhirnya sajak yang dibuat tahun 1996 itu rampung dikerjakan tahun 1998. Bahkan, sampai sekarang pun ia merasa sajak itu perlu direvisi karena masih ada marah dalam peristiwa itu.
Sama halnya ketika suasana hati sedang jatuh cinta. Puisi yang dibuat pasti akan cengeng. Karena itu, membuat jeda/jarak dengan peristiwa sangat penting.
Dengan gaya guyonan, Sapardi mengatakan, “Kalau kondisi sedang marah sajak akan dipenuhi pentungan (tanda seru-red). Kalau sedang jatuh cinta banget akan banyak titik-titiknya. Bagaimana bacanya?”
2. Sajak Ada di Sekitar Kita
Membuat puisi tidak harus yang mengawang-awang, melangit, yang justru menyulitkan penulis sendiri.
Sapardi memberikan contoh. Ada satu karyanya berjudul “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” yang karena begitu sederhananya, justru masuk dalam antologi puisi dunia bersama satu karya dari Rendra. Berikut puisinya:
Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari
waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku
di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang
di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa diantara
kami yang harus berjalan di depan
Sapardi sendiri kurang mengerti mengapa sajak itu bisa begitu dihargai hingga telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa serta dapat masuk dalam antologi yang mencatat karya sastra top dunia dari berbagai periode. Dari sajak-sajak yang dibuat Sapardi, sajak inilah yang paling disukai dan dihapalnya.
3. Jangan Meniru Karya Sendiri
Hah, maksudnya? Meniru karya sendiri? Ya. Kejahatan paling sadis menurut Sapardi adalah selalu meniru karyanya sendiri. Kalau dilakukan, ini dosa besar. Akibatnya, tidak sedikit sastrawan yang selalu berputar di wilayah yang itu-itu saja. Kreativitasnya mandek.
Kalau orang mengenalnya sebagai penulis puisi cinta, menurut Sapardi itu keliru besar. Sebab, selama ini banyak sekali tema yang ditulisnya di luar topik percintaan. Seperti keresahan sosial, masa kecil, keluarga, kritik kepada penguasa, dan sebagainya.
Agar kreativitas tidak mandek dan terus mengalir, Sapardi selalu membaca apa saja. Karena dengan membaca, wawasan menjadi terbuka. Perbendaharaan kata menjadi kaya.
“Puisi itu sebenarnya menipumu. Seperti pesulap, kalian digiring melalui kata-kata menuju makna tertentu,” kata Sapardi.
B. JOKO PINURBO
“Banyak puisi bagus yang gagal karena si penyair tergoda untuk berceramah dan menyimpulkan sendiri puisi tersebut di ending-nya.”
Untuk lebih lengkap, penyair yang akrab dipanggil Jokpin ini memberi beberapa kiat dalam menulis puisi:
1. Memiliki Buku Catatan Ide
Milikilah buku catatan yang menyimpan kenangan akan segala objek atau peristiwa yang saya lihat dan saya perhatikan.
2. Memperluas Sudut Pandang
“Anda bisa menulis secara lebih efisien dan lebih membumi jika anda memperluas sudut pandang. Banyak penyair menulis tentang hujan, tetapi bisakah Anda menulis tentang hujan yang beda dengan hujannya Chairil Anwar dan Sapardi,” kata Jokpin.
3. Jangan Berceramah
Jangan merusak puisi Anda dengan berceramah sehingga merebut hak pembaca untuk menyimpulkan karya Anda. “Banyak puisi bagus yang gagal karena si penyair tergoda untuk berceramah dan menyimpulkan sendiri puisi tersebut di ending-nya. Salah satu nafsu negatif pengarang adalah keinginan yang sangat besar untuk menyimpulkan sendiri pesan atau amanat dari karya-karyanya. Padahal, menyimpulkan bacaan adalah bagiannya pembaca. Jangan bernafsu untuk menjadi nabi atau penceramah dalam tulisanmu. Jangan menceramahi pembaca lewat karya. Biarkan pembaca berimajinasi. Jangan merebut hak pembaca untuk menyimpulan sendiri apa yang mereka baca. Jangan terlalu bernafsu untuk menggurui atau mengajari pembaca lewat karya kita,” jelas Jokpin.
4. Banyak Membaca Puisi Karya Penyair Lain
“Dalam kepala kita bersliweran puisi-puisi karya penyair lain yang pernah kita baca. Rekaman ini akan membantu kita dalam menulis  karya yang khas kita sendiri. Tetapi, hal ini tidak bisa terjadi kalau kitanya tidak suka membaca. Karena itu, perbanyaklah bava karya penyair lain untuk referensi dan belajar menulis puisi,” jelasnya.
Darimana kita belajar menulis akan menunjukkan kualitas karya kita. Jokpin menyarankan kita untuk membaca karya-karya yang baik untuk bisa menulis puisi yang baik. “Bergaulah dengan (membaca) karya-karya yang baik. Bacalah karya-karya penyair lain, dan pelajari. Kalau bisa, sekalian dihafalkan. Ini sebagai bukti cinta pembaca kepada pengarangnya,” sambung beliau
5. Jadilah Orang yang Moderat, yang Bersahaja
Penyair menjadi penyair hanya ketika dia sedang berkreativitas mengolah puisi. Di luar itu, maka dia adalah manusia biasa. Maka, untuk jadi pengarang yang baik jadilah manusia yang sewajarnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita bisa menyerap cerita-cerita dan pengalaman kehidupan orang lain.

“Lebih baik jadi orang biasa dengan karya yang gila daripada menjadi orang gila dengan karya yang biasa-biasa saja.” 


Terakhir, beliau menyebutkan rekomendasi daftar para penulis yang karya-karyanya harus dibaca untuk bisa menulis puisi yang bagus :
1)    Chairil Anwar, penyair legendaris Indonesia
2)    Rendra, jagonya puisi-puisi social
3)    Goenawan Mohamad
4)    Sutardji Calzoum Bachri
5)    Taufik Ismail
6)    Sapardi Djoko Darmono
7)    Acep Zamzam Noer
8)    Afrizal malna
9)    Seobagyo Sastro Wardoyo
10) Sitor Situmorang


Sumber : gmb-indonesia.com

Selasa, 16 Juni 2020

RINDU MASA SEBELUM CORONA | Puisi



Corona cepatlah berlalu
aku rindu lika-liku kotaku
aku ingin kembali
memanjakan diriku
terlebih lagi
ketika suasana syahdu

Teman yang setia
sanak keluarga tercinta
sahabat yang ada
suka dan duka
aku rindu semuanya

Maaf
bila sering mengeluhkan kebosanan
terlalu lama di rumah
dan menjadi resah
semua dilakukan
demi mencapai kerinduan kita
kepada masa sebelum corona

Semoga
di tahun berikutnya
bisa memberikan kejutan luar biasa
untuk kita

.....
Karya Triwahyu Hariyadi, siswa XII MIPA 2 TP. 2019/ 2020

Senin, 15 Juni 2020

PPDB ONLINE HARI PERTAMA SMA NEGERI 2 LIWA, CALON PENDAFTAR SANGAT ANTUSIAS

Foto : Proses Input Data Online dibantu oleh Panitia 


Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri 2 Liwa TP. 2020/ 2021 resmi dimulai pada Senin (15/06). Nampak satu jam sebelum pembukaan loket, barisan pendaftar sudah mulai mengular. Tentunya kehadiran mereka (calon pendaftar) sudah mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

“Semua kami cek suhu tubuh, mencuci tangan dan wajib memakai masker di gerbang utama. Alhamdulillah hari pertama, semua calon pendaftar dan orang tua / wali tidak ada yang diatas 37 derajat untuk suhu tubuhnya. Beberapa yang tidak membawa masker, kami minta agar mencari masker terlebih dahulu”, jelas Yudi Rikanda, Panitia Keamanan PPDB SMA Negeri 2 Liwa.

Masih kata Yudi, jaga jarak juga menjadi perhatian. Agar menghindari penumpukan pendaftar saat antre di loket. Panitia sudah mempersiapkan ruang tunggu di teras beberapa kelas.

Foto : Pengukuran Suhu Tubuh Calon Pendaftar

Sesuai juknis, PPDB dilaksanakan secara Daring (dalam jaringan)/ Online mulai Senin hingga Kamis, 15-18 Juni 2020. Namun, di sekolah yang berada di Jalan Gajah Mada Nomor 1 Kelurahan Pasar Liwa ini, pendaftar diimbau hadir langsung bersama orang tua/ wali.

“Kami juga memperhatikan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah, terbatasnya akses internet yang dialami oleh sebagian besar calon pendaftar. Oleh karena  itu, kami ajak mereka hadir langsung, dan panitia akan membantu menginput data secara online”, ujar Hernida, S.Pd

Dari pantauan panitia dokumentasi, pendaftar yang hadir didominasi dari dalam zona SMA Negeri 2 Liwa. Untuk diketahui, zona SMA Negeri 2 Liwa meliputi Kecamatan Balik Bukit, dan sebagian wilayah Kecamatan Sukau (Pekon Bandar Baru dan sekitarnya). Antusias pendaftar sangat jelas terlihat, bagi mereka SMA Negeri 2 Liwa sudah menjadi pilihan utama melanjutkan sekolah.

Minggu, 14 Juni 2020

WAJIB DIBACA : INFO TERBARU PPDB SMA NEGERI 2 LIWA TP. 2020/ 2021

Ilustrasi : Kompas.com


INFORMASI PENTING
  1. SMA Negeri 2 Liwa membuka pendaftaran secara Daring dan Luring
  2. Calon pendaftar memakai masker serta berpakaian bebas sopan ; memakai sepatu, mengenakan rok bagi puteri dan celana kain bagi putera
  3. Proses pendaftaran langsung hadir ke sekolah diupayakan bersama orang tua/ wali
  4. Loket pendaftaran akan dibuka mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB
  5. Dokumen Pendaftaran dimasukkan ke dalam MAP Kertas berwarna kuning untuk putera dan MAP Kertas berwarna hijau untuk puteri
  6. Pas foto berwarna tidak ditentukan warna latar (silahkan antara merah atau biru)
  7. Surat Pertanggungjawaban Multak Orang Tua disediakan oleh panitia (orang tua/ wali diusahakan hadir ke sekolah karena akan menanda tangani surat ini)
  8. Jika ingin mencetak secara mandiri Surat Pertanggungjawaban Multak Orang Tua, silahkan diunduh pada link ini (orang tua/ wali tidak mesti hadir bila surat sudah dicetak dan ditandatangani di rumah)

DASAR PELAKSANAAN

  1. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2019 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan
  2. Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 800/ 1451 /V.01/2020 Tentang Mekanisme Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru Sekolah Menengah Atas Negeri dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Di Provinsi Lampung Tahun Pelajaran 2020/2021
  3. SK Kepala SMA Negeri 2 Liwa Nomor 422.1/116/421.3/V/2020 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) TP. 2020/ 2021

JADWAL PELAKSANAAN
  1. Waktu Pendaftaran (15 - 18 Juni 2020)
  2. Verifikasi Data Calon Peserta (18 - 20 Juni 2020)
  3. Pengumuman Hasil Seleksi (22 Juni 2020)
  4. Daftar Ulang (22 - 24 Juni 2020)
  5. MPLS (Dijadwalkan pada 13 - 15 Juli 2020)
  6. Awal PBM (15 Juli 2020)

DAYA TAMPUNG SMA NEGERI 2 LIWA
  1. Empat kelas MIPA
  2. Tiga kelas IPS

JALUR PENDAFTARAN
  1. Jalur Zonasi (berdasarkan jarak tempuh rumah-sekolah)
  2. Jalur Afirmasi (khusus pemegang Jaminan Sosial ; PKH, KIP, dan sebagainya)
  3. Jalur perpindahan tugas orang tua/wali (ASN, TNI/ POLRI, dan karyawan perusahaan)
  4. Jalur Prestasi (berprestasi akademik dan atau non akademik)

DOKUMEN PENDAFTARAN
  1. Ijazah/ Bukti keterangan lulus dari SMP sederajat (Asli dan 2 lembar salinan yang telah dilegalisir)
  2. Kartu Keluarga / Surat Keterangan Domosili (Asli dan 2 lembar salinan)
  3. Pas Foto berwarna ukuran 3 x 4 cm (sebanyak 2 lembar)
  4. Surat Pertanggungjawaban Multak Orang Tua (Asli dan 2 lembar salinan)
  5. Materai 6000 (sebanyak 2 lembar)
  6. (Khusus jalur Afirmasi) Bukti Keterangan Tidak Mampu; KIP, PKH (Asli dan 2 lembar salinan)
  7. (Khusus jalur Perpindahan Orang Tua) Surat Penugasan dari instansi, lembaga, kantor, atau perusahaan yang mempekerjakan (Asli dan 2 lembar salinan)
  8. (Khusus jalur prestasi) Bukti Prestasi berupa Nilai Rapor atau Sertifikat/ Piagam Penghargaan hasil perlombaan dan/ atau penghargaan di bidang akademik maupun non-akademik pada tingkat internasional, tingkat nasional, tingkat provinsi,dan/ atau tingkat kabupaten/ kota (Asli dan 2 lembar salinan yang telah dilegalisir)

Baca juga link berikut :
  1. Alur Pelayanan PPDB SMA Negeri 2 Liwa TP. 2020/ 2021
  2. Mekanisme Pendaftaran Peserta Didik Baru SMA Negeri 2 Liwa TP. 2020/ 2021
  3. Petunjuk Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negeri 2 Liwa TP. 2020/2021


Sabtu, 13 Juni 2020

MENGERTI NAMUN TAK MENYADARI | Puisi

Ilustrasi : Google.com

Sejenak aku menyadari
aku terlalu dini untuk mengerti
butir air yang tak dapat terbendung
dalam diri,
terbuang dengan caranya sendiri

Begitu banyak kesalahan
hingga membuat
mahkota hati hilang sesaat
entah bagaimana,
akupun tidak tahu

Menusuk sukma jiwa ini,
tidak dapat kupungkiri
ini jalan yang tak
kau restui

Maafkan aku
yang mengerti namun tak menyadari

Bagaimana bisa
aku tiada kuasa memahami keadaanmu?

…………………….

Karya Sri Dianti, kelas XII IPS 3 TP. 2020/ 2021. Ditulis di Suoh, pada 22 Mei 2020

INFORMASI PENTING

PRESENSI HARIAN KBM DARING II SMA NEGERI 2 LIWA

Ilustrasi : Google.com Perhatian : Efektif mulai tanggal 14 September 2020 Wajib mengisi presensi harian mulai pukul 07.30-09.00 ...